Spread the love

“Saya menjadi kematian, penghancur dunia, penghancur alam semesta ini. Aku telah datang untuk menghancurkan.”

Julius Robert Oppenheimer

Pendahuluan

Julius Robert Oppenheimer adalah salah satu ilmuwan besar abad ke-20 yang berperan penting dalam pengembangan senjata nuklir dan ilmu fisika modern. Ia lahir pada 22 April 1904 di Kota New York, Amerika Serikat, dari keluarga imigran Yahudi yang kaya. Kecerdasannya yang luar biasa sejak kecil menunjukkan bakat yang akan membawanya pada prestasi gemilang di dunia ilmu pengetahuan. Artikel ini akan menggali perjalanan hidup, kontribusi, serta tantangan yang dihadapi oleh Oppenheimer dalam kariernya yang mengesankan.

Masa Muda dan Pendidikan

Oppenheimer tumbuh dalam lingkungan yang intelektual dan diberi kesempatan mendapatkan pendidikan terbaik. Ayahnya adalah seorang pengusaha tekstil yang sukses, sementara ibunya merupakan seorang seniman dan penganut kepercayaan Buddha. Kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh pada minat dan ambisi Oppenheimer dalam bidang sains.

Ia menempuh pendidikan di Sekolah Ethical Culture Fieldston, sebuah sekolah swasta bergengsi di Kota New York. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Oppenheimer belajar di Harvard University. Di sini, ia mengejar berbagai bidang studi, termasuk kimia, filosofi, sastra, dan terutama fisika. Kejeniusannya dalam fisika menonjol dan membuatnya meraih gelar sarjana dengan pujian pada usia 20 tahun.

Perjalanan Menuju Karier Ilmiah

Oppenheimer melanjutkan pendidikan tingkat doktor di Universitas G√∂ttingen, Jerman. Di bawah bimbingan ilmuwan terkemuka seperti Max Born dan Werner Heisenberg, ia mengeksplorasi mekanika kuantum dan teori- teori revolusioner lainnya. Pada tahun 1927, ia berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul “Tentang Hubungan Fisika Atom dengan Teori Kuantum”.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, Oppenheimer mengajar di beberapa universitas terkenal dan aktif dalam penelitian teoritis. Karier akademisnya semakin bersinar saat ia ditunjuk sebagai profesor di California Institute of Technology (Caltech) dan University of California, Berkeley. Ia terus melakukan penelitian fundamental dalam fisika teoretis dan mendapatkan penghargaan serta pengakuan atas kontribusinya.

Proyek Manhattan dan Pengaruhnya

Ketika Perang Dunia II meletus, pemerintah Amerika Serikat membentuk tim ilmuwan terbaik, termasuk Oppenheimer, untuk membangun senjata nuklir dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Proyek Manhattan. Oppenheimer dipilih sebagai pemimpin laboratorium di Los Alamos, yang bertanggung jawab atas merancang dan mengembangkan bom atom.

Selama masa ini, Oppenheimer mengalami tantangan moral yang besar. Ia menyadari potensi kehancuran massal yang bisa diakibatkan oleh senjata yang sedang dikembangkan, tetapi juga merasa tanggung jawab terhadap tugasnya untuk memastikan keberhasilan proyek tersebut. Pada akhirnya, bom atom pertama di dunia diuji pada 16 Juli 1945, dan Oppenheimer menyaksikan keberhasilan proyek yang dipimpinnya, yang kemudian digunakan pada serangan di Hiroshima dan Nagasaki.

Setelah Proyek Manhattan

Setelah Perang Dunia II berakhir, Julius Robert Oppenheimer dikenal sebagai “Bapak Bom Atom” dan mendapatkan ketenaran yang luar biasa. Namun, ketenarannya juga menarik perhatian pemerintah Amerika Serikat yang mencurigainya sebagai anggota Partai Komunis atau simpatis dengan komunisme. Ia menjadi sasaran investigasi dan pengawasan dari Komite Kegiatan Anti-Amerika.

Pada tahun 1954, Oppenheimer kehilangan izin keamanan akses atas alasan keamanan nasional, yang mengakhiri karier ilmiahnya. Meskipun demikian, ia terus berjuang untuk perdamaian dunia dan menentang pengembangan senjata hidrogen yang lebih kuat.

Warisan dan Akhir Hidup

Julius Robert Oppenheimer hidup dalam ketegangan antara peran sebagai ilmuwan dan warga negara. Meskipun masa akhir hidupnya dipenuhi dengan tantangan dan kontroversi, ia tetap dihormati dalam komunitas ilmiah sebagai salah satu fisikawan paling berpengaruh dalam sejarah. Pada tahun 1963, Presiden Lyndon B. Johnson memberikan kepadanya Presidential Medal of Freedom, penghargaan tertinggi sipil di Amerika Serikat.

Julius Robert Oppenheimer meninggal pada 18 Februari 1967 karena kanker tenggorokan. Walaupun kepergiannya menyisakan polemik dan tanda tanya, kontribusi ilmiahnya dan peranannya dalam Proyek Manhattan tetap diabadikan sebagai bagian penting dari sejarah perkembangan sains dan teknologi modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending